CERYATASI
Sepanjang perjalanan pulang workshop
aku belum bisa menemukan ide apa yang harus aku tulis, aku sibuk melihat
pemandangan luar dari candela bus dan sesekali menutup hidungku dengan hijab
yang aku pakai agar aku tidak menghirup bau rokok.Dari sudut mataku aku melihat
sepertinya ada seseorang yang memperhatikan aku…aku mencoba menoleh ke orang
tersebut untuk memastikan, dan ternyata benar ada seorang wanita seumuran
dengan ibuku sedang melihat ke arahku. Dengan sedikit malu karena ketahuan, ibu
itu menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum ke arahku…sopan..berwibawa
kesan itu yang kutangkap, aku pun membalas dengan senyuman termanisku.
Belum
selesai aku berfikir kenapa ya ibu itu memperhatikan aku, tiba-tiba aku
dikagetkan dengan suara lembut yang menyapaku
“Mari nak ibu turun dulu” akupun
menjawab dengan senyuman…dia beranjak sambil bersalaman dan memberiku sesuatu
yang terbungkus kantong plastic hitam. Aku berfikir mungkin itu makanan…setelah
aku buka, spontan aku mencari ibu itu tapi laju bis yang kencang membuat aku
tidak menemukannya.Dengan sedikit tak percaya aku buka lagi…ada tulisan yang
terselip..yang berbunyi “Uang 10jt itu buat kamu nak, karena kamu cantik”.
Kupejamkan mata dengan sedikit menegadah ke atas ku ucapkan syukur pada Sang
Pencipta.
“Yang turun Babat..yang turun Babat
persiapan…” segera kubuka mataku terlihat kondektur sambil tersenyum berkata
“tidurnya pules banget mbak…sampek ngowoh-ngowoh”.Loh…berarti
uang 10 juta itu cuma mimpi?
Pintu
pagar rumah aku buka perlahan, suasana rumah tampak sepi, belum aku lihat
anak-anakku berlarian menghampiriku dengan celoteh dan candanya. “Mama..mama…”
hmmm…seperti angin segar yang menerpaku yang menghilangkan semua kepenatanku
setelah seharian di tempat kerja.”Anak-anak ngaji…Cuma A’ek yang di rumah”
ibuku mencoba memberi tahuku.Setelah mencuci tangan dan kaki aku menuju kamar.
Aku lihat di situ anak bungsuku yang tahun depan sudah masuk SD sedang bermain
boneka. Dari ucapan lirih yang aku dengar dari mulutnya, dia memainkan banyak peran,
selain jadi Sisi dia juga memainkan peran sebagai Tristan, Nayla dan Digo,
nama-nama yang dia ambil dari salah satu sinetron di televisi. Tidak seperti
biasanya dia tampak murung, aku mencoba untuk mendekatinya. Dia menoleh
sebentar ke arahku sambil tersenyum dan menciumku. Aku mencoba bertanya kenapa
kok tidak pergi ngaji, dia cuma diam.
Laptop
tidak jadi aku buka, ketika tiba-tiba aku dengar suara A’ek. “Mama..”. Dia
menghampiriku dan memelukku. Sambil terisak lirih dia bercerita, ternyata
selama di sekolah dia kembali di bully teman-temannya. Dia memegang
punggungnya, dia bilang sakit karena habis di pukul temannya.
“ Mama..aku gak nakal, aku cuma pengen
ngumpul sama temen-temenku, tapi aku malah di dorong..dipukul”. Marah, jengkel
sedih campur aduk seketika itu juga menyerangku tapi aku berusaha menenangkan
A’ek dengan memberikan dia support, dengan ini aku berharap dia tidak semakin
terpuruk, aku ingin dengan perlakuan teman-temannya dia akan tumbuh menjadi
A’ek yang kuat. Orang tua mana yang tega anaknya disakiti, aku mencoba untuk
melaporkan ke gurunya tetapi untuk kesekian kalinya hasilnya juga sama slow respon.
“Ayo…semuanya bangun..sholat subuh”
Seperti biasa aku mencoba untuk membangunkan mereka untuk melaksanakan
kewajibannya sebagai seorang muslim. Aku lihat jam sudah menunjukkan pukul
06.00 waktunya aku harus berangkat kerja. “Anak-anak…mama berangkat dulu ya..jangan
lupa sarapan, hari ini upacara, jangan sampai sakit”. Seperti lomba mereka
berlari ke arahku berusaha untuk jadi yang pertama mencium tanganku. Doa
terbaik dari mama buat kalian penyemangat hidupku.
Hari
ini jadwal mengajarku cuma empat jam. Ruang guru terlihat sepi, kubuka laptop,
aku mencoba untuk mengerjakan tugas workshop kemarin, yaitu membuat tulisan
tentang motivasi. Sebenarnya aku bisa saja download tapi aku tepis niat itu.
Awalnya aku ragu dengan apa yang aku tulis, takut ada penilaian, “wah kalau ini
tulisan tingkat SD”, baper, sok yes.
Aku mulai memainkan tanganku diatas keyboard, kutulis sedikit kisah hidupku
dari sederet perjalanan hidupku yang kelam dan penuh liku. Aku yakin tulisanku
tidak memberikan motivasi apapun kepada orang lain tapi mereka tidak tahu
bagaimana pahit getirnya aku menjalaninya.
Pembaca
terkasih, untuk yang kesekian aku mencoba menyembunyikan air mataku dengan
selembar tissue, masih teringat jelas
ketika A’ek memilih beberapa permen, yang menurutku tidak akan habis kalau
dimakan sendiri, “Ini buat Rara ma…, ini buat gadis…haidar dan beberapa nama
lagi dia sebut” Dia memandangku lalu berkata “Biar teman-temanku jadi baik ma
dan aku tidak sendiri lagi di sekolah, aku elkas ma, ma…temenku tetep disayang
Allah kan ma” Untuk mengucapkan kata ikhlas saja belum bisa tapi dia sudah tahu
bagaiamana cara memaafkan tanpa harus membalas dengan kejahatan. Aku terharu,
bangga, semoga Allah menjagamu nak..tumbuhlah menjadi anak sholehah. Kamu ingin
jadi kentang, telur atau biji kopi, itu pertanyaan di akhir cerita inspirasi
yang pernah aku baca tentang filosofi bagaimana cara menghadapi kesulitan
hidup.Mama ingin A’ek jadi telur, meski kelihatan rapuh tapi setelah proses
pemanasan telur akan menjadi kuat dan akan bisa memberikan manfaat buat orang
lain.
Akhirnya aku bisa
menyelesaikan tulisan ini, aku berharap tidak ada lagi stigma sosial, karena anak
seorang preman belum tentu jadi preman. Jangan pernah memandang sebelah mata
kesalahan seseorang di masa lalu karena kita tidak tahu perjuangannya untuk
berubah menjadi baik.Pembaca yang terhormat, itulah inti dari CERYATASI, cerita
yang tak menginspirasi. Aku berharap tidak ada lagi orang yang salah jalan
seperti aku.
.png)


0 komentar: