CERYATASI

Oktober 01, 2020 , 0 Comments

 


            Sepanjang perjalanan pulang workshop aku belum bisa menemukan ide apa yang harus aku tulis, aku sibuk melihat pemandangan luar dari candela bus dan sesekali menutup hidungku dengan hijab yang aku pakai agar aku tidak menghirup bau rokok.Dari sudut mataku aku melihat sepertinya ada seseorang yang memperhatikan aku…aku mencoba menoleh ke orang tersebut untuk memastikan, dan ternyata benar ada seorang wanita seumuran dengan ibuku sedang melihat ke arahku. Dengan sedikit malu karena ketahuan, ibu itu menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum ke arahku…sopan..berwibawa kesan itu yang kutangkap, aku pun membalas dengan senyuman termanisku.

            Belum selesai aku berfikir kenapa ya ibu itu memperhatikan aku, tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara lembut yang menyapaku

“Mari nak ibu turun dulu” akupun menjawab dengan senyuman…dia beranjak sambil bersalaman dan memberiku sesuatu yang terbungkus kantong plastic hitam. Aku berfikir mungkin itu makanan…setelah aku buka, spontan aku mencari ibu itu tapi laju bis yang kencang membuat aku tidak menemukannya.Dengan sedikit tak percaya aku buka lagi…ada tulisan yang terselip..yang berbunyi “Uang 10jt itu buat kamu nak, karena kamu cantik”. Kupejamkan mata dengan sedikit menegadah ke atas ku ucapkan syukur pada Sang Pencipta.

“Yang turun Babat..yang turun Babat persiapan…” segera kubuka mataku terlihat kondektur sambil tersenyum berkata “tidurnya pules banget mbak…sampek ngowoh-ngowoh”.Loh…berarti uang 10 juta itu cuma mimpi?

            Pintu pagar rumah aku buka perlahan, suasana rumah tampak sepi, belum aku lihat anak-anakku berlarian menghampiriku dengan celoteh dan candanya. “Mama..mama…” hmmm…seperti angin segar yang menerpaku yang menghilangkan semua kepenatanku setelah seharian di tempat kerja.”Anak-anak ngaji…Cuma A’ek yang di rumah” ibuku mencoba memberi tahuku.Setelah mencuci tangan dan kaki aku menuju kamar. Aku lihat di situ anak bungsuku yang tahun depan sudah masuk SD sedang bermain boneka. Dari ucapan lirih yang aku dengar dari mulutnya, dia memainkan banyak peran, selain jadi Sisi dia juga memainkan peran sebagai Tristan, Nayla dan Digo, nama-nama yang dia ambil dari salah satu sinetron di televisi. Tidak seperti biasanya dia tampak murung, aku mencoba untuk mendekatinya. Dia menoleh sebentar ke arahku sambil tersenyum dan menciumku. Aku mencoba bertanya kenapa kok tidak pergi ngaji, dia cuma diam.

            Laptop tidak jadi aku buka, ketika tiba-tiba aku dengar suara A’ek. “Mama..”. Dia menghampiriku dan memelukku. Sambil terisak lirih dia bercerita, ternyata selama di sekolah dia kembali di bully teman-temannya. Dia memegang punggungnya, dia bilang sakit karena habis di pukul temannya.

“ Mama..aku gak nakal, aku cuma pengen ngumpul sama temen-temenku, tapi aku malah di dorong..dipukul”. Marah, jengkel sedih campur aduk seketika itu juga menyerangku tapi aku berusaha menenangkan A’ek dengan memberikan dia support, dengan ini aku berharap dia tidak semakin terpuruk, aku ingin dengan perlakuan teman-temannya dia akan tumbuh menjadi A’ek yang kuat. Orang tua mana yang tega anaknya disakiti, aku mencoba untuk melaporkan ke gurunya tetapi untuk kesekian kalinya hasilnya juga sama slow respon.

“Ayo…semuanya bangun..sholat subuh” Seperti biasa aku mencoba untuk membangunkan mereka untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Aku lihat jam sudah menunjukkan pukul 06.00 waktunya aku harus berangkat kerja. “Anak-anak…mama berangkat dulu ya..jangan lupa sarapan, hari ini upacara, jangan sampai sakit”. Seperti lomba mereka berlari ke arahku berusaha untuk jadi yang pertama mencium tanganku. Doa terbaik dari mama buat kalian penyemangat hidupku.

            Hari ini jadwal mengajarku cuma empat jam. Ruang guru terlihat sepi, kubuka laptop, aku mencoba untuk mengerjakan tugas workshop kemarin, yaitu membuat tulisan tentang motivasi. Sebenarnya aku bisa saja download tapi aku tepis niat itu. Awalnya aku ragu dengan apa yang aku tulis, takut ada penilaian, “wah kalau ini tulisan tingkat SD”, baper, sok yes. Aku mulai memainkan tanganku diatas keyboard, kutulis sedikit kisah hidupku dari sederet perjalanan hidupku yang kelam dan penuh liku. Aku yakin tulisanku tidak memberikan motivasi apapun kepada orang lain tapi mereka tidak tahu bagaimana pahit getirnya aku menjalaninya.

            Pembaca terkasih, untuk yang kesekian aku mencoba menyembunyikan air mataku dengan selembar tissue, masih teringat jelas ketika A’ek memilih beberapa permen, yang menurutku tidak akan habis kalau dimakan sendiri, “Ini buat Rara ma…, ini buat gadis…haidar dan beberapa nama lagi dia sebut” Dia memandangku lalu berkata “Biar teman-temanku jadi baik ma dan aku tidak sendiri lagi di sekolah, aku elkas ma, ma…temenku tetep disayang Allah kan ma” Untuk mengucapkan kata ikhlas saja belum bisa tapi dia sudah tahu bagaiamana cara memaafkan tanpa harus membalas dengan kejahatan. Aku terharu, bangga, semoga Allah menjagamu nak..tumbuhlah menjadi anak sholehah. Kamu ingin jadi kentang, telur atau biji kopi, itu pertanyaan di akhir cerita inspirasi yang pernah aku baca tentang filosofi bagaimana cara menghadapi kesulitan hidup.Mama ingin A’ek jadi telur, meski kelihatan rapuh tapi setelah proses pemanasan telur akan menjadi kuat dan akan bisa memberikan manfaat buat orang lain.

Akhirnya aku bisa menyelesaikan tulisan ini, aku berharap tidak ada lagi stigma sosial, karena anak seorang preman belum tentu jadi preman. Jangan pernah memandang sebelah mata kesalahan seseorang di masa lalu karena kita tidak tahu perjuangannya untuk berubah menjadi baik.Pembaca yang terhormat, itulah inti dari CERYATASI, cerita yang tak menginspirasi. Aku berharap tidak ada lagi orang yang salah jalan seperti aku.



tugas diklat

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: