Kearifan Lokal dan Pemberdayaan Komunitas

 


Hakikat Kearifan Lokal

Memahami Makna Kearifan Lokal

Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan komunitas tersebut. Kearifan lokal berkaitan erat dengan kondisi geografis atau lingkungan alam. Nilai-nilai dalam kearifan lokal menjadi modal utama membangun masyarakat tanpa merusak tatanan sosial dengan lingkungan alam. Jadi dapat dikatakan bahwa kearifan lokal terbentuk sebagai budaya unggul dari masyarakat setempat berkaitan dengan kondisi geografis. Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal, nilai yang terkadang didalamnya yakni universal.

Ciri-ciri dan Fungsi Kearifan Lokal

Ciri-ciri kearifan lokal adalah sebagai berikut:

a.       Mampu bertahan terhadap budaya luar,

b.      Memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar,

c.       Mempunyai kemampuan mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam budaya asli,

d.      Mampu memberi arah pada perkembangan budaya.

Fungsi kearifan lokal:

a.       Berfungsi untuk konservasi dan pelestarian sumber daya alam,

b.      Berfungsi untuk mengembangkan sumber daya manusia, misalnya berkaitan dengan upacara daur hidup, konsep kanda pet rate,

c.       Berfungsi untuk pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan,

d.      Berfungsi sebagai petuah, kepercayaan, sastra dan pantangan,

e.       Bermakna misalnya sebagai integrasi komunal/kerabat serta upacara daur pertanian,

f.       Bermakna etika dan moral yang terwujud dalam upacara ngaben dan penyucian roh leluhur,

g.      Bermakna politik, misalnya dalam upacara ngangkuk merana dan kekuasaan patron client

Bentuk Kearifan Lokal di Indonesia

Nyoman Sirtha menjelaskan bahwa bentuk-bentuk kearifan lokal yang ada dalam masyarakat berupa nilai, norma, kepercayaan dan aturan-aturan khusus. Terdapat pendapat lain yang mengklasifikasikan kearifan lokal ke dalam dua aspek (Azan, 2013) yaitu:

 

a. Wujud Nyata (Tangible)

§  Tekstual

§  Bangunan atau Aristektual

§  Benda Cagar Budaya atau Tradisional (Karya Seni)

b. Tidak Berwujud (intangible)

Contohnya yaitu petuah yang disampaikan secara verbal dan seni suara berupa nyanyian, pantun, cerita, serat nilai-nilai ajaran tradisional. Serat ini disampaikan secara verbal dari generasi ke generasi.

Pemberdayaan Komunitas

Hakikat Pemberdayaan Komunitas

Komunitas adalah sekelompok masyarakat yang terikat dalam suatu identitas yang sama. Di Indonesia banyak terdapat komunitas yang memiliki ciri yang memegang teguh kearifan lokal sebagai pedoman hidup dalam melaksanakan aktivitasnya sehari-hari. Misalnya komunitas suku Badui, komunitas masyarakat Kampung Naga, komunitas Suku Kajang, dsb.

Sehingga pada hakikatnya, pemberdayaan komunitas menurut Wilkinson (Sadri, 2009) adalah sebuah upaya atau perubahan yang sengaja dilakukan atau dikembangkan oleh anggota sebuah komunitas itu sendiri, dimana mereka merumuskan masalah, menyusun rencana serta menentukan arah perubahan menurut keyakinan dan persepsi mereka sendiri dan perubahan itu diyakini sebagai perbaikan (improvement) sebagaimana layaknya membangun bangunan, maka upaya perbaikan tersebut umumnya diarahkan kepada perbaikan dan pengokohan struktur-struktur penopang komunitas yang bersangkutan.

Tujuan dan Sasaran Pemberdayaan Komunitas

Tujuan dari pemberdayaan komunitas adalah untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Mkemandirian ini meliputi kemandirian bertindak, berpikir dan mengendalikan apa yang mereka lakukan (Nugroho, 2012). Pemberdayaan komunitas orientasinya merujuk kepada komunitas yang kurang berdaya atau tidak berdaya. Pemberdayaan juga dapat dilakukan kepada komunitas yang telah berdaya, namun dengan tujuan untuk mengantisipasi terhadap ancaman dan hambatan yang dapat mengubah komunikasi itu sendiri.

Siklus Pemberdayaan Komunitas

Menurut Terry Wilson, terdapat tujuh tahapan dalam siklus pemberdayaan komunitas yaitu:

1.      Tahap pertama, keinginan dari masyarakat sendiri untuk berubah menjadi lebih baik.

2.      Tahap kedua, masyarakat diharapkan mampu melepaskan halangan-halangan atau faktor-faktor yang bersifat resiatensi terhadap kemajuan dalam diri dan komunitasnya.

3.      Tahap ketiga, masyarakat diharapkan sudah menerima kebebasan tambahan dan merasa memiliki tanggungjawab dalam mengembangkan dirinya dan komunitasnya.

4.      Tahap keempat, upaya untuk mengembngkna peran dan batas tanggungjawab yang lebih luas, hal ini berkaitan dengan minat dan motivasi untuk melakukan pekerjaan dengan baik.

5.      Tahap kelima, peningkatan rasa memiiki yang besar menghasilkan keluaran kinerja yang lebih baik. Pada tahap ini hasil-hasil nyata dari pemberdayaan mulai terlihat.

6.      Tahap keenam, telah terjadi perubahan perilaku dan kesan terhadap dirinya, ketika keberhasilan dalam peningkatan kerja mampu meningkatkan perasaan psikologis di atas posisi sebelumnya.

7.      Tahap ketujuh, masyarakat sudah berhasil memberdayakan dirinya, merasa tertantang untuk upaya yang lebih besar guna mendapatkan hasil yang lebih baik.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemberdayaan Komunitas

1.      Kesediaan suatu komunitas untuk menerima pemberdayaan bergantung pada situasi yang dihadapi.

2.      Adanya pemikiran bahwa pemberdayaan tidak untuk semua orang, dan adanya persepsi dari pemegang kekuasaan dalam komunitas tersebut bahwa pemberdayaan dapan mengorbankan diri mereka sendiri.

3.      Ketergantungan adalah budaya, dengan adanya masyarakat sudah terbiasa dalam hirarki, birokrasi dan kontrol menejemen yang tegas sehingga membuat mereka terpola dalam berpikir dan berbuat rutinitas.

4.      Dorongan dari para pemimpin setiap komunitas untuk tidak mau melepaskan kekuasaannya, sehingga inti dari pemberdayaan terutama terkait dengan siklus pemberdayaan kemampuan dan motivasi setiap orang berbeda-beda.

5.      Adanya batas pemberdayaan, terutama terkait dengan siklus pemberdayaan kemampuan dan motivasi setiap orang berbeda-beda.

6.      Adanya kepercayaan dari para pemimpin komunitas untuk mengembangkan pemberdayaan dan mengubah persepsi mereka tentang anggota komunitasnya.

7.      Pemberdayaan tidak kondusif bagi perubahan yang cepat.

8.      Pemberdayaan membutuhkan dukungan sumber daya (resource) yang besar, baik dari segi pembiayaan maupun waktu





Materi Sosiologi SMA Kelas XI: KONFLIK, KEKERASAN DAN UPAYA PENYELESAIANNYA



Pengaruh Diferensiasi Sosial dan Stratifikasi Sosial

Secara umum, diferensiasi dan stratifikasi sosial memberikan pengaruh positif dan negative pada masyarakat. Pengaruh positifnya, diferensiasi dan stratifikasi sosial dapat mendorong terjadinya integrase sosial, sedangkan pengaruh negatifnya adalah terjadinya disintegrasi sosial. Diferensiasi sosial dapat menimbulkan primordialisme, etnosentrisme, politik aliran, dan terjadinya proses konsolidasi.

Primordialisme

Salah satu konsekuensi dari adanya diferensiasi sosial adalah terjadinya primordialisme. Primordialisme merupakan pandangan atau paham yang menunjukkan sikap berpegang teguh pada hal-hal yang sejak semula melekat pada diri individu, seperti suku bangsa, ras, dan agama. Istilah primordialisme berasal dari kata Bahasa Latin “primus” yang artinya pertama dan “ordiri” yang artinya tenunan atau ikatan. Dengan demikian, kata primordial(isme) dapat berarti ikatan-ikatan utama seseorang dalam kehidupan sosial, dengan hal-hal yang dibawanya sejak lahir seperti suku bangsa, ras, klan, asal usul kedaerahan, dan agama.

Etnosentrisme

Primordialisme yang berlebihan juga akan menghasilkan sebuah pandangan subjektif yang disebut etnosentrisme atau fanatisme suku bangsa. Etnosentrisme adalah suatu sikap menilai kebudayaan masyarakat lain dengan menggunakan ukuran-ukuran yang berlaku di masyarakatnya. Karena yang dipakai adalah ukuran-ukuran masyarakatnya, maka orang akan selalu menganggap kebudayaannya memiliki nilai lebih tinggi daripada kebudayaan masyarakat lain.

Politik Aliran (Sektarian)

Politik aliran merupakan keadaan dimana sebuah kelompok atau organisasi tertentu dikelilingi oleh sejumlah organisasi massa (ormas), baik formal maupun informal. Tali pengikat antara kelompok dan organisasi-organisasi massa ini adalah ideologi atau aliran (sekte) tertentu. Contohnya, partai politik PKB yang dikelilingi oleh ormas-ormas NU.

Konsolidasi

Berasal dari kata “consolidation” yang berarti penguatan atau pengukuhan. Konsolidasi memiliki dua sisi, yaitu sisi ke dalam dan sisi keluar. Konsolidasi dengan sisi kedalam akan memperkuat solidaritas kedalam suatu organisasi atau himpunan. Sebaliknya, konsolidasi dengan sisi keluar dapat menimbulkan sikap antipati dan kecurigaan terhadap organisasi lain.

 

Konflik Sosial

Pengertian Konflik

Kata “konflik” berasal dari bahasa Latin “configure” yang artinya saling memukul. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konflik didefinisikan sebagai percekcokkan, perselisihan, atau pertentangan. Dengan demikian, secara sederhana, konflik merujuk pada adanya dua hal atau lebih yang bersebrangan, tidak selaras, dan bertentangan.

Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (atau juga kelompok) yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya.

Konflik lahir dari kenyataan akan adanya perbedaan-perbedaan, misalnya perbedaan ciri badaniah, emosi, kebudayaan, kebutuhan, kepentingan, atau pola-pola perilaku antarindividu atau kelompok dalam masyarakat.

Faktor-Faktor Penyebab Konflik

Soerjono Soekanto mengemukakan empat faktor yang dapat menyebabkan terjadinya konflik dalam masyarakat, yakni perbedaan antarindividu, perbedaan antarkebudayaan, perbedaan kepentingan, dan perubahan sosial

Bentuk-Bentuk Konflik

Lewis A. Coser membedakan konflik atas dua bentuk.

Konflik realistis berasal dari kekecewaan individu atau kelompok terhadap sistem dan tuntutan-tuntutan yang terdapat dalam hubungan sosial.

Konflik nonrealistic adalah konflik yang bukan berasal dari tujuan-tujuan persaingan yang antagonistis (berlawanan), melainkan dari kebutuhan pihak-pihak tertentu untuk meredakan ketegangan. Contohnya pembalasan dendam lewat ilmu gaib yang dilakukan dalam masyarakat tradisional. Contoh lain adalah upaya mencari kambing hitam yang terjadi dalam masyarakat telah maju.

Soerjono Soekanto menyebutkan lima bentuk khusus konflik atau pertentangan yang terjadi dalam masyarakat.

  1. Konflik pribadi
  2. Konflik rasial
  3. Konflik antara kelas-kelas sosial
  4. Konflik politik
  5. Konflik internasional

Dari sudut psikologi sosial, Ursula Lehr mengemukakan bentuk-bentuk konflik

  1. Konflik dengan orang tua sendiri
  2. Konflik dengan anak-anak sendiri
  3. Konflik dengan keluarga
  4. Konflik dengan orang lain
  5. Konflik dengan suami istri
  6. Konflik di sekolah
  7. Konflik dalam pemilihan pekerjaan
  8. Konflik agama
  9. Konflik pribadi

 

Segi positif konflik adalah sebagai berikut.

  1. Konflik dapat memperjelas aspek-aspek kehidupan yang belum jelas atau masih belum tuntas ditelaah.
  2. Konflik memungkinkan adanya penyesuaian kembali norma-norma, nilai-nilai, serta hubungan-hubungan sosial dalam kelompok bersangkutan dengan kebutuhan individu atau kelompok
  3. Konflik meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (in-group solidarity) yang sedang berkonflik dengan kelompok lain.
  4. Konflik merupakan jalan untuk mengurangi ketergantungan antarindividu dan kelompok
  5. Konflik dapat membantu menghidupkan kembali norma-norma lama dan menciptakan norma-norma baru
  6. Konflik dapat berfungsi sebagai sarana untuk mencapai keseimbangan antara kekuatan-kekuatan yang ada di dalam masyarakat
  7. Konflik memunculkan sebuah kompromi baru apabila pihak yang berkonflik berada dalam kekuatan yang seimbang

Segi negative suatu konflik adalah sebagai berikut.

  1. Keretakan hubungan antar individu dan persatuan kelompok
  2. Kerusakan harta benda dan jatuhnya korban manusia
  3. Berubahnya sikap kepribadian para individu, baik yang mengarah pada hal-hal positif atau negative
  4. Munculnya dominasi kelompok pemenang atas kelompok yang kalah

Kekerasan

Kekerasan adalah bentuk lanjutan dari konflik sosial. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kekerasan didefinisikan sebagai perbuatan seseorang atau kelompok yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain, atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, kekerasan identik dengan tindakan melukai orang lain dengan sengaja, membunuh, atau memperkosa. Kekerasan seperti itu sering disebut sebagai kekerasan langsung (direct violence). Kekerasan juga menyangkut tindakan-tindakan seperti mengekang, mengurangi atau meniadakan hak seseorang, mengintimidasi, memfitnah, dan menteror orang lain. Jenis kekerasan yang terakhir disebut kekerasan tidak langsung (indirect violence)

 

Teori-Teori tentang Kekerasan

  1. Teori Faktor Individual

Agresivitas perilaku seseorang dapat menyebabkan timbulnya kekerasan. Faktor penyebab perilaku kekerasan adalah faktor pribadi dan faktor sosial. Faktor pribadi meliputi kelainan jiwa, seperti psikopat, psikoneurosis, frustasi kronis, serta pengaruh obat bius. Faktor yang bersifat sosial, antara lain konflik rumah tangga, faktor budaya, dan media massa.

  1. Teori Faktor Kelompok

Terjadi karena benturan identitas kelompok yang berbeda. Contohnya konflik antarsupoter bola

  1. Teori Dinamika Kelompok

Kekerasan yang timbul karena adanya deprivasi relative (kehilangan rasa memiliki) yang terjadi dalam kelompok atau masyarakat. Artinya, perubahan-perubahan sosial yang terjadi demikian cepat dalam sebuah masyarakat dan tidak mampu ditanggapi dengan seimbang oleh sistem sosial dan nilai masyarakatnya.

 

Cara Pengendalian Konflik dan Kekerasan

Konflik merupakan gejala sosial yang senantiasa melekat dalam kehidupan setiap masyarakat. Sebagai gejala sosial, konflik hanya akan hilang bersama hilangnya masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, yang dapat kita lakukan adalah mengendalikan agar konflik tersebut tidak berkembang menjadi kekerasan (violence).

Pada umumnya masyarakat memiliki sarana atau mekanisme untuk mengendalikan konflik di dalam tubuhnya. Beberapa sosiolog menyebutnya sebagai katup penyelamat (safety valve), yaitu mekanisme khusus yang dipakai untuk mempertahankan kelompok dari kemungkinan konflik. Lewis A. Coser melihat katup penyelemat sebagai jalan keluar yang dapat meredakan permusuhan antara dua pihak yang berlawanan.

Secara umum, ada tiga macam bentuk pengendalian konflik sosial:

  1. Konsiliasi

Bentuk pengendalian konflik yang dilakukan melalui lembaga-lembaga tertentu yang memungkinkan diskusi dan pengambilan keputusan yang adil di antara pihak-pihak yang bertikai.

  1. Mediasi

Pengendalian konflik dengan cara mediasi dilakukan apabila kedua pihak yang berkonflik sepakat untuk menunjuk pihak ketiga sebagai mediator. Pihak ketiga ini akan memberikan pemikiran atau nasihat-nasihatnya tentang cara terbaik dalam menyelesaikan pertentangan mereka.

  1. Arbitrasi

Arbitrasi atau perwasitan umumnya dilakukan apabila kedua belah pihak yang berkonflik sepakat untuk menerima atau terpaksa menerima hadirnya pihak ketiga yang akan memberikan keputusan tertentu untuk menyelesaikan konflik.Maryati, Kun dan Juju Suryawati. 2014. Sosiologi:Kelompok Pemintan Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta. Esis Erlangga

daftar pustaka:

http://blog.unnes.ac.id/ivanalfiansyah/2015/12/07/materi-smama-kelas-xi-konflik-kekerasan-dan-upaya-penyelesaiannya/



CERYATASI

 


            Sepanjang perjalanan pulang workshop aku belum bisa menemukan ide apa yang harus aku tulis, aku sibuk melihat pemandangan luar dari candela bus dan sesekali menutup hidungku dengan hijab yang aku pakai agar aku tidak menghirup bau rokok.Dari sudut mataku aku melihat sepertinya ada seseorang yang memperhatikan aku…aku mencoba menoleh ke orang tersebut untuk memastikan, dan ternyata benar ada seorang wanita seumuran dengan ibuku sedang melihat ke arahku. Dengan sedikit malu karena ketahuan, ibu itu menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum ke arahku…sopan..berwibawa kesan itu yang kutangkap, aku pun membalas dengan senyuman termanisku.

            Belum selesai aku berfikir kenapa ya ibu itu memperhatikan aku, tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara lembut yang menyapaku

“Mari nak ibu turun dulu” akupun menjawab dengan senyuman…dia beranjak sambil bersalaman dan memberiku sesuatu yang terbungkus kantong plastic hitam. Aku berfikir mungkin itu makanan…setelah aku buka, spontan aku mencari ibu itu tapi laju bis yang kencang membuat aku tidak menemukannya.Dengan sedikit tak percaya aku buka lagi…ada tulisan yang terselip..yang berbunyi “Uang 10jt itu buat kamu nak, karena kamu cantik”. Kupejamkan mata dengan sedikit menegadah ke atas ku ucapkan syukur pada Sang Pencipta.

“Yang turun Babat..yang turun Babat persiapan…” segera kubuka mataku terlihat kondektur sambil tersenyum berkata “tidurnya pules banget mbak…sampek ngowoh-ngowoh”.Loh…berarti uang 10 juta itu cuma mimpi?

            Pintu pagar rumah aku buka perlahan, suasana rumah tampak sepi, belum aku lihat anak-anakku berlarian menghampiriku dengan celoteh dan candanya. “Mama..mama…” hmmm…seperti angin segar yang menerpaku yang menghilangkan semua kepenatanku setelah seharian di tempat kerja.”Anak-anak ngaji…Cuma A’ek yang di rumah” ibuku mencoba memberi tahuku.Setelah mencuci tangan dan kaki aku menuju kamar. Aku lihat di situ anak bungsuku yang tahun depan sudah masuk SD sedang bermain boneka. Dari ucapan lirih yang aku dengar dari mulutnya, dia memainkan banyak peran, selain jadi Sisi dia juga memainkan peran sebagai Tristan, Nayla dan Digo, nama-nama yang dia ambil dari salah satu sinetron di televisi. Tidak seperti biasanya dia tampak murung, aku mencoba untuk mendekatinya. Dia menoleh sebentar ke arahku sambil tersenyum dan menciumku. Aku mencoba bertanya kenapa kok tidak pergi ngaji, dia cuma diam.

            Laptop tidak jadi aku buka, ketika tiba-tiba aku dengar suara A’ek. “Mama..”. Dia menghampiriku dan memelukku. Sambil terisak lirih dia bercerita, ternyata selama di sekolah dia kembali di bully teman-temannya. Dia memegang punggungnya, dia bilang sakit karena habis di pukul temannya.

“ Mama..aku gak nakal, aku cuma pengen ngumpul sama temen-temenku, tapi aku malah di dorong..dipukul”. Marah, jengkel sedih campur aduk seketika itu juga menyerangku tapi aku berusaha menenangkan A’ek dengan memberikan dia support, dengan ini aku berharap dia tidak semakin terpuruk, aku ingin dengan perlakuan teman-temannya dia akan tumbuh menjadi A’ek yang kuat. Orang tua mana yang tega anaknya disakiti, aku mencoba untuk melaporkan ke gurunya tetapi untuk kesekian kalinya hasilnya juga sama slow respon.

“Ayo…semuanya bangun..sholat subuh” Seperti biasa aku mencoba untuk membangunkan mereka untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Aku lihat jam sudah menunjukkan pukul 06.00 waktunya aku harus berangkat kerja. “Anak-anak…mama berangkat dulu ya..jangan lupa sarapan, hari ini upacara, jangan sampai sakit”. Seperti lomba mereka berlari ke arahku berusaha untuk jadi yang pertama mencium tanganku. Doa terbaik dari mama buat kalian penyemangat hidupku.

            Hari ini jadwal mengajarku cuma empat jam. Ruang guru terlihat sepi, kubuka laptop, aku mencoba untuk mengerjakan tugas workshop kemarin, yaitu membuat tulisan tentang motivasi. Sebenarnya aku bisa saja download tapi aku tepis niat itu. Awalnya aku ragu dengan apa yang aku tulis, takut ada penilaian, “wah kalau ini tulisan tingkat SD”, baper, sok yes. Aku mulai memainkan tanganku diatas keyboard, kutulis sedikit kisah hidupku dari sederet perjalanan hidupku yang kelam dan penuh liku. Aku yakin tulisanku tidak memberikan motivasi apapun kepada orang lain tapi mereka tidak tahu bagaimana pahit getirnya aku menjalaninya.

            Pembaca terkasih, untuk yang kesekian aku mencoba menyembunyikan air mataku dengan selembar tissue, masih teringat jelas ketika A’ek memilih beberapa permen, yang menurutku tidak akan habis kalau dimakan sendiri, “Ini buat Rara ma…, ini buat gadis…haidar dan beberapa nama lagi dia sebut” Dia memandangku lalu berkata “Biar teman-temanku jadi baik ma dan aku tidak sendiri lagi di sekolah, aku elkas ma, ma…temenku tetep disayang Allah kan ma” Untuk mengucapkan kata ikhlas saja belum bisa tapi dia sudah tahu bagaiamana cara memaafkan tanpa harus membalas dengan kejahatan. Aku terharu, bangga, semoga Allah menjagamu nak..tumbuhlah menjadi anak sholehah. Kamu ingin jadi kentang, telur atau biji kopi, itu pertanyaan di akhir cerita inspirasi yang pernah aku baca tentang filosofi bagaimana cara menghadapi kesulitan hidup.Mama ingin A’ek jadi telur, meski kelihatan rapuh tapi setelah proses pemanasan telur akan menjadi kuat dan akan bisa memberikan manfaat buat orang lain.

Akhirnya aku bisa menyelesaikan tulisan ini, aku berharap tidak ada lagi stigma sosial, karena anak seorang preman belum tentu jadi preman. Jangan pernah memandang sebelah mata kesalahan seseorang di masa lalu karena kita tidak tahu perjuangannya untuk berubah menjadi baik.Pembaca yang terhormat, itulah inti dari CERYATASI, cerita yang tak menginspirasi. Aku berharap tidak ada lagi orang yang salah jalan seperti aku.



“SIAL MENUMBUHKAN MODAL SOSIAL”

 


            Mengawali tulisan ini saya akan sedikit bercerita tentang bagaimana saya mensikapi tentang wabah corona ini. Pada awalnya saya membaca berita di media sosial tentang wabah corona yang pertama kali muncul di Wuhan Cina, ada sedikit ketakutan tapi dengan cepat saya menepis dengan menempatkan dalam pikiran saya kalau berita itu hanya fiktif dan saya berharap itu hanya berita hoaks. Jujur, sebenarnya saya atau mungkin ada sebagian masyarakat sudah kesulitan untuk membedakan antara berita yang nyata atau rekayasa. Penyebaran berita bohong di media massa bisa menimbulkan masalah baru dalam masyarakat, karena bisa menimbulkan keresahan, menimbulkan konflik bahkan bisa mempengaruhi rendahnya kewaspadaan  terhadap suatu masalah. Terbukti dari pengalaman saya, sepertinya saya baru tersadar bahwa fenomena pandemic corona itu nyata ketika sekolah di liburkan dan saya harus pula menjalani WFH (work from home), saya juga kesulitan mencari masker ataupun handsanitizer.

             Globalisasi telah mendorong peningkatan arus mobilitas penduduk dunia, jadi dalam waktu singkat corona berubah menjadi pandemi global. Semua negara dibuat kuwalahan, pembatasan aktivitas atau physical distancing, stay at home dan lockdown dengan cepat diberlakukan. Pemberlakuan aturan tersebut bukan berarti membuat masalah jadi selesai, ternyata menimbulkan dampak pada sendi kehidupan yang lain, misalnya faktor ekonomi. Drama-drama kehidupan bermunculan satu persatu, di mulai dari masyarakat kelas menengah dan bawah yang kesulitan mendapatkan bahan pangan karena sudah di borong oleh masyarakat kelas atas, banyak karyawan yang di PHK, kriminalitas semakin meningkat, dan sebagainya.

            Kondisi masyarakat yang tidak sama juga memberikan potret yang berbeda dalam mensikapi pandemic corona, hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal misalnya faktor ekonomi, pendidikan ataupun tingkat kesadaran akan kesehatan karena minimnya informasi yang mereka terima. Seperti kondisi yang ada di desa saya, dampak dari pandemic corona tidak begitu mempengaruhi aktivitas masyarakat, sebagian besar masyarakat masih tetap beraktivitas seperti biasanya. Hanya saja ada beberapa perubahan yang sifatnya lebih positif tentang kekompakan dan kerja sama dalam menghalau masuknya virus corona dari daerah lain, masyarakat bergotong royong  membuat papan pembatas yang di pasang disetiap pintu masuk desa dengan tulisan yang bertemakan pencegahan corona. Secara tidak langsung dengan adanya masalah bersama solidaritas masyarakat muncul, baik itu karena kesadaran ataupun karena aturan yang bersifat normatif.

            Ketakutan masyarakat akan bahaya corona sepertinya tidak selalu berbanding lurus dengan urusan perut, jadi masih banyak terlihat sebagian masyarakat yang tetap bekerja di luar rumah untuk menyambung hidup, prinsip mereka ada corona atau tidak ya tetap mati. Sekali lagi kondisi ini juga mengundang empati masyarakat “mampu” untuk memberikan bantuan berupa bahan pokok maupun alat perlindungan diri sederhana seperti masker untuk di bagikan pada mereka yang membutuhkan.

            Sudah hampir dua bulan lebih kita menjalani masa stay at home, rasa jenuh dan bosan sudah menghampiri kita semua, berbagai macam kegiatan sudah kita lakukan untuk mengusir kebosanan itu. Ada yang mencoba membuka bisnis kuliner rumahan, ada yang memanfaatkan masa ini menjadi moment untuk memperbaiki kualitas diri, seperti mengikuti workshop secara online ataupun mengikuti kajian online. Saya dan keluarga juga tidak mau kalah, saya berusaha selama masa libur pandemi corona ini bisa menjadikan setiap waktu saya lebih berkualitas dengan keluarga, banyak manfaat yang saya dapatkan, saya lebih punya banyak waktu mendampingi anak saya belajar banyak hal yang positif.

Pada suatu pagi secara tidak sengaja saya mendengar percakapan tetangga saya yang berangkat ke sawah, berdasarkan pegalaman hidup mereka, dari kecil sampai tua baru kali ini menemui kondisi zaman seperti ini, dimana harus hidup dalam ketakutan, paceklik dan tidak boleh kemana-mana. Apa ini tanda-tanda mau kiamat ataukah ini hukuman dari Allah karena kita semua sudah kebanyakan dosa.

Percakapan mereka yang sederhana merupakan paradigma berfikir masyarakat secara umum tentang suatu bencana. Sebagai masyarakat yang beragama, tidak bisa kita pungkiri setiap ada bencana yang melanda, baik itu bencana alam ataupun wabah penyakit, selalu muncul keyakinan kita kalau semua itu merupakan kehendak Allah SWT, agar kita selalu mengakui kebesaran-Nya dan selalu sabar dalam menjalaninya.   Dari beberapa contoh sebelumnya bisa saya ambil kesimpulan bahwa kita harus tetap berfikir positif dalam menghadapi setiap masalah atau musibah, karena pada kenyataaannya ada banyak pelajaran yang bisa kita d apatkan. Pelajaran yang bisa kita ambil dari tulisan saya ini adalah dengan adanya musibah bisa menimbulkan modal sosial yaitu diantaranya partisipasi dan tindakan proaktif yang ditunjukkan dengan adanya kerjasama dan gotong royong sesama warga, selanjutnya munculnya resiprocity dimana adanya suatu empati terhadap kondisi sesama dan terbentuknya aturan baru dalam melakukan hubungan sosial. Semoga dengan tetap menjadi pribadi yang baik dalam menghadapi setiap masalah bisa mengantarkan kita pada keberkahan hidup.



Orang Tua Hebat, Mencetak Anak yang Hebat

 



        Keluarga merupakan media sosialisasi primer, karena dalam lingkungan keluargalah individu pertama kali belajar tentang bagaimana cara hidup dalam masyarakat. Di dalam keluarga terjadi suatu hubungan sosial antara orang tua dan anak, orang tua memegang peranan penting dalam mentransfer nilai-nilai kehidupan dengan tujuan agar si anak tumbuh menjadi pribadi yang baik dan bisa berpartisipasi aktif dalam masyarakat. Pendidikan dalam keluarga dimulai sejak dini, dimana pada masa ini merupakan periode emas untuk  pembentukan dasar-dasar kepribadian, kemampuan berfikir, kecerdasan, ketrampilan dan kemampuan bersosialisasi.

            Lingkungan keluarga yang harmonis bisa menjadi wadah yang ideal untuk membentuk kepribadian anak menjadi baik, dimana ada ayah dan ibu yang bekerja sama dalam menanamkan nilai-nilai positif kehidupan, sehingga bisa dikatakan proses sosialisasinya sempurna. Selama ini anak dianggap sebagai peniru yang ulung, jadi diharapkan orang tua bisa memberi contoh yang baik terhadap anak-anaknya. Akan tetapi kondisi ideal ini tidak sama pada setiap keluarga, jadi kendala dan hasil akhir pendidikan dalam keluarga juga  bersifat kondisional. Kondisi keluarga yang harmonis yang sudah mandiri baik secara mental maupun finansial, akan berbeda dengan pasangan suami istri yang masih tinggal bersama orang tuanya, begitupun juga dengan keluarga miskin dan bagaimana pula dengan para single parent.

            Intervensi dari “kakek nenek” atau anggota keluarga yang lain akan menjadi kendala pada pasangan suami istri yang masih tinggal seatap dengan orang tua, dalam hal ini ada sesuatu yang dikhawatirkan, ada kemungkinan anak menjadi “bingung”, karena pola asuh antara orang tua dengan pola asuh “kakek nenek” sudah berbeda. Apabila hal ini terjadi maka anak cenderung akan melakukan suatu tindakan yang melanggar aturan. Jadi harus ada kesepakatan bersama diantara anggota keluarga.

            Status sebagai orang tua tunggal atau single parent dalam keluarga akan mempunyai peran ganda, yaitu selain sebagai pengasuh anak-anak juga sebagai pencari nafkah, jadi konsekuensinya para orang tua tunggal harus bisa membagi waktu antara bekerja dan mengasuh anak, agar anak tidak merasa di telantarkan karena intensitas pertemuan yang sedikit.

Keterlibatan anak untuk membantu orang tua dalam pekerjaan keluarga dan kegiatan pencarian nafkah terlihat jelas dalam keluarga miskin. Anak perempuan lebih banyak membantu pekerjaan rumah sedangkan anak laki-laki lebih banyak membantu mencari nafkah. Waktu mereka yang tersita untuk memenuhi kebutuhan hidup, rendahnya tingkat pendidikan, sering memunculkan stigma kalau etika yang rendah dan “madesu” merupakan ciri dari anak-anak yang terlahir dalam keluarga miskin. Tetapi apakah itu merupakan harga mati?...lantas apa yang terjadi pada Jan Koum sang pendiri WhatsApp yang terlahir dari keluarga miskin, yang bisa makan hanya dari jatah pemerintah, sekolah harus dropout dan harus kehilangan ibunya di usia yang masih belia. Sekarang dia hidup dengan kekayaan yang berlimpah, tetap sederhana dan rendah hati. Dari siapa dia mempunyai semangat untuk bekerja keras, dari siapa dia menjadi pribadi yang baik.

            Potret beberapa kondisi keluarga di atas bisa memberikan sedikit gambaran untuk kita bersikap bijak dalam penerapan pendidikan karakter dalam keluarga. Apapun kondisi yang terjadi dalam keluarga, pendidikan anak tetap yang utama. Karakter yang baik merupakan modal dasar bagi seorang anak untuk bisa bertahan hidup menghadapi berbagai macam tantangan di era global seperti sekarang ini, dimana tingkat kompetisi semakin tinggi, dengan kecanggihan tekhnologi pengaruh budaya luar juga sudah tidak bisa terbendung lagi.

Sebagai orang tua tentunya tidak menginginkan anaknya terjerumus dalam pergaulan bebas, menjadi pengangguran, melakukan tindak criminal dan masih banyak lagi contoh penyimpangan yang disebabkan oleh alasan klise karena kurangnya perhatian orang tua. Jadi sebagai orang tua harus bisa bersahabat dengan berbagai macam kondisi yang bisa menghalangi untuk dekat dengan anaknya, tidak ada alasan lagi kesibukan kerja, tidaka ada lagi mengganti quality time dengan limpahan materi, karena ada juga orang sukses yang terlahir dari orang tua yang miskin dengan pendidikan yang rendah.

Dalam teorinya yang dikenal dengan “tabula rasa” Jhon Locke mengatakan bahwa bayi dilahirkan dalam keadaan kosong seperti kertas putih, , dan pengalaman dari lingkungan luar akan mempengaruhi dan membuatnya berkembang. Pendidikan yang dilakukan oleh orang tua merupakan warna dasar yang sangat penting untuk melukis karakter anak, karena anak merupakan plagiator yang handal maka diharapkan orang tua bisa memberikan contoh yang baik dan bisa mengenalkan nilai-nilai luhur kehidupan, karena pendidikan adalah suatu proses yang terencana dan terarah untuk membentuk individu yang unggul dan mandiri secara jasmani dan rohani maka pendidikan karakter dalam keluarga harus dilakukan secara bertahap dan konsisten.

Orang tua dan anak hidup di zaman yang berbeda, di sela-sela mengajar saya pernah bertanya kepada murid-murid saya tentang hubungan mereka dengan orang tuanya, tujuan saya hanya ingin membuktikan kebenaran teori bahwa usia remaja yang terpenting dalam hidupnya adalah peer group dan ternyata itu benar, mereka merasa orang tua tidak memahami apa yang mereka inginkan. Dalam pendidikan islami, ada quote dari Ali bin Abi Thalib, RA yaitu “Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya, Karena mereka hidup bukan di jamanmu”. Dalam proses pembelajaran ketertarikan peserta didik terhadap guru dan materi yang disampaikan merupakan salah satu syarat agar proses KBM menjadi efektif, begitupun juga dalam keluarga, sebaiknya orang tua harus bisa membuat nyaman anak-anaknya, salah satunya dengan pendekatan yang bersifat partisipatoris dan tidak bersikap otoriter.

            Generasi alfa, begitulah istilah yang digunakan untuk menyebut anak-anak yang hidup di masa revolusi 4.0. Dimana mereka hidup dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Kecanggihan teknologi diharapkan bisa membantu aktivitas manusia, misalnya bisa menjadi sarana dan sumber belajar untuk anak-anak. Internet bisa membantu anak-anak untuk mendapatkan berbagai macam informasi dengan mudah. Sebagai orang tua, kita harus bisa mengantarkan anak untuk sukses, sebagai langkah bijak kita harus tetap mengontrol aktivitas anak, yaitu misalnya dengan pendampingan agar anak bisa memanfaatkan teknologi dengan benar. Sebagai contoh misalnya pemberitaan tentang tindakan bullying  sekelompok remaja terhadap anak penjual jalangkote. Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat mereka tertawa ketika salah satu dari mereka mendorong anak penjual jalangkote hingga terperosok ke dalam selokan. Dengan bimbingan orang tua, anak bisa tahu mana tindakan yang baik dan yang tidak baik.

            Seperti peribahasa, apa yang kita tanam itulah yang kita tuai, diakhir tulisan saya ini saya berharap semoga kita bisa menjadi orang tua yang hebat, yang bisa menghantarkan anak-anak kita menjadi pribadi yang baik dan berbudi luhur, dengan kapasitas dan komitmen untuk melakukan yang terbaik. . Sehingga kita tidak menyesal di kemudian hari.