Materi Sosiologi SMA Kelas XI: KONFLIK, KEKERASAN DAN UPAYA PENYELESAIANNYA
Pengaruh Diferensiasi Sosial dan
Stratifikasi Sosial
Secara umum, diferensiasi
dan stratifikasi sosial memberikan pengaruh positif dan negative pada
masyarakat. Pengaruh positifnya, diferensiasi dan stratifikasi sosial dapat
mendorong terjadinya integrase sosial, sedangkan pengaruh negatifnya adalah
terjadinya disintegrasi sosial. Diferensiasi sosial dapat menimbulkan
primordialisme, etnosentrisme, politik aliran, dan terjadinya proses
konsolidasi.
Primordialisme
Salah satu konsekuensi
dari adanya diferensiasi sosial adalah terjadinya primordialisme.
Primordialisme merupakan pandangan atau paham yang menunjukkan sikap berpegang
teguh pada hal-hal yang sejak semula melekat pada diri individu, seperti suku
bangsa, ras, dan agama. Istilah primordialisme berasal dari kata Bahasa Latin
“primus” yang artinya pertama dan “ordiri” yang artinya tenunan atau ikatan.
Dengan demikian, kata primordial(isme) dapat berarti ikatan-ikatan utama
seseorang dalam kehidupan sosial, dengan hal-hal yang dibawanya sejak lahir
seperti suku bangsa, ras, klan, asal usul kedaerahan, dan agama.
Etnosentrisme
Primordialisme yang
berlebihan juga akan menghasilkan sebuah pandangan subjektif yang disebut
etnosentrisme atau fanatisme suku bangsa. Etnosentrisme adalah suatu sikap
menilai kebudayaan masyarakat lain dengan menggunakan ukuran-ukuran yang
berlaku di masyarakatnya. Karena yang dipakai adalah ukuran-ukuran
masyarakatnya, maka orang akan selalu menganggap kebudayaannya memiliki nilai
lebih tinggi daripada kebudayaan masyarakat lain.
Politik Aliran (Sektarian)
Politik aliran merupakan
keadaan dimana sebuah kelompok atau organisasi tertentu dikelilingi oleh
sejumlah organisasi massa (ormas), baik formal maupun informal. Tali pengikat
antara kelompok dan organisasi-organisasi massa ini adalah ideologi atau aliran
(sekte) tertentu. Contohnya, partai politik PKB yang dikelilingi oleh
ormas-ormas NU.
Konsolidasi
Berasal dari kata
“consolidation” yang berarti penguatan atau pengukuhan. Konsolidasi memiliki
dua sisi, yaitu sisi ke dalam dan sisi keluar. Konsolidasi dengan sisi kedalam
akan memperkuat solidaritas kedalam suatu organisasi atau himpunan. Sebaliknya,
konsolidasi dengan sisi keluar dapat menimbulkan sikap antipati dan kecurigaan
terhadap organisasi lain.
Konflik Sosial
Pengertian Konflik
Kata “konflik” berasal
dari bahasa Latin “configure” yang artinya saling memukul. Dalam kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI), konflik didefinisikan sebagai percekcokkan,
perselisihan, atau pertentangan. Dengan demikian, secara sederhana, konflik
merujuk pada adanya dua hal atau lebih yang bersebrangan, tidak selaras, dan
bertentangan.
Secara sosiologis, konflik
diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (atau juga
kelompok) yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkan atau
membuatnya tidak berdaya.
Konflik lahir dari
kenyataan akan adanya perbedaan-perbedaan, misalnya perbedaan ciri badaniah,
emosi, kebudayaan, kebutuhan, kepentingan, atau pola-pola perilaku antarindividu
atau kelompok dalam masyarakat.
Faktor-Faktor Penyebab Konflik
Soerjono Soekanto
mengemukakan empat faktor yang dapat menyebabkan terjadinya konflik dalam
masyarakat, yakni perbedaan antarindividu, perbedaan antarkebudayaan, perbedaan
kepentingan, dan perubahan sosial
Bentuk-Bentuk Konflik
Lewis A. Coser membedakan
konflik atas dua bentuk.
Konflik realistis berasal
dari kekecewaan individu atau kelompok terhadap sistem dan tuntutan-tuntutan
yang terdapat dalam hubungan sosial.
Konflik nonrealistic
adalah konflik yang bukan berasal dari tujuan-tujuan persaingan yang
antagonistis (berlawanan), melainkan dari kebutuhan pihak-pihak tertentu untuk
meredakan ketegangan. Contohnya pembalasan dendam lewat ilmu gaib yang
dilakukan dalam masyarakat tradisional. Contoh lain adalah upaya mencari
kambing hitam yang terjadi dalam masyarakat telah maju.
Soerjono Soekanto
menyebutkan lima bentuk khusus konflik atau pertentangan yang terjadi dalam
masyarakat.
- Konflik pribadi
- Konflik rasial
- Konflik antara kelas-kelas sosial
- Konflik politik
- Konflik internasional
Dari sudut psikologi
sosial, Ursula Lehr mengemukakan bentuk-bentuk konflik
- Konflik dengan orang tua sendiri
- Konflik dengan anak-anak sendiri
- Konflik dengan keluarga
- Konflik dengan orang lain
- Konflik dengan suami istri
- Konflik di sekolah
- Konflik dalam pemilihan pekerjaan
- Konflik agama
- Konflik pribadi
Segi positif konflik adalah sebagai
berikut.
- Konflik dapat memperjelas
aspek-aspek kehidupan yang belum jelas atau masih belum tuntas ditelaah.
- Konflik memungkinkan adanya
penyesuaian kembali norma-norma, nilai-nilai, serta hubungan-hubungan
sosial dalam kelompok bersangkutan dengan kebutuhan individu atau kelompok
- Konflik meningkatkan solidaritas
sesama anggota kelompok (in-group solidarity) yang sedang berkonflik
dengan kelompok lain.
- Konflik merupakan jalan untuk
mengurangi ketergantungan antarindividu dan kelompok
- Konflik dapat membantu
menghidupkan kembali norma-norma lama dan menciptakan norma-norma baru
- Konflik dapat berfungsi sebagai
sarana untuk mencapai keseimbangan antara kekuatan-kekuatan yang ada di
dalam masyarakat
- Konflik memunculkan sebuah
kompromi baru apabila pihak yang berkonflik berada dalam kekuatan yang
seimbang
Segi negative suatu konflik adalah
sebagai berikut.
- Keretakan hubungan antar individu
dan persatuan kelompok
- Kerusakan harta benda dan
jatuhnya korban manusia
- Berubahnya sikap kepribadian para
individu, baik yang mengarah pada hal-hal positif atau negative
- Munculnya dominasi kelompok
pemenang atas kelompok yang kalah
Kekerasan
Kekerasan adalah bentuk
lanjutan dari konflik sosial. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
kekerasan didefinisikan sebagai perbuatan seseorang atau kelompok yang
menyebabkan cedera atau matinya orang lain, atau menyebabkan kerusakan fisik
atau barang orang lain.
Dalam kehidupan
sehari-hari, kekerasan identik dengan tindakan melukai orang lain dengan
sengaja, membunuh, atau memperkosa. Kekerasan seperti itu sering disebut
sebagai kekerasan langsung (direct violence). Kekerasan juga menyangkut
tindakan-tindakan seperti mengekang, mengurangi atau meniadakan hak seseorang,
mengintimidasi, memfitnah, dan menteror orang lain. Jenis kekerasan yang
terakhir disebut kekerasan tidak langsung (indirect violence)
Teori-Teori tentang Kekerasan
- Teori Faktor Individual
Agresivitas perilaku
seseorang dapat menyebabkan timbulnya kekerasan. Faktor penyebab perilaku
kekerasan adalah faktor pribadi dan faktor sosial. Faktor pribadi meliputi
kelainan jiwa, seperti psikopat, psikoneurosis, frustasi kronis, serta pengaruh
obat bius. Faktor yang bersifat sosial, antara lain konflik rumah tangga,
faktor budaya, dan media massa.
- Teori Faktor Kelompok
Terjadi karena benturan
identitas kelompok yang berbeda. Contohnya konflik antarsupoter bola
- Teori Dinamika Kelompok
Kekerasan yang timbul
karena adanya deprivasi relative (kehilangan rasa memiliki) yang terjadi dalam
kelompok atau masyarakat. Artinya, perubahan-perubahan sosial yang terjadi
demikian cepat dalam sebuah masyarakat dan tidak mampu ditanggapi dengan
seimbang oleh sistem sosial dan nilai masyarakatnya.
Cara Pengendalian Konflik dan
Kekerasan
Konflik merupakan gejala
sosial yang senantiasa melekat dalam kehidupan setiap masyarakat. Sebagai
gejala sosial, konflik hanya akan hilang bersama hilangnya masyarakat itu
sendiri. Oleh karena itu, yang dapat kita lakukan adalah mengendalikan agar
konflik tersebut tidak berkembang menjadi kekerasan (violence).
Pada umumnya masyarakat
memiliki sarana atau mekanisme untuk mengendalikan konflik di dalam tubuhnya.
Beberapa sosiolog menyebutnya sebagai katup penyelamat (safety valve), yaitu
mekanisme khusus yang dipakai untuk mempertahankan kelompok dari kemungkinan
konflik. Lewis A. Coser melihat katup penyelemat sebagai jalan keluar yang
dapat meredakan permusuhan antara dua pihak yang berlawanan.
Secara umum, ada tiga
macam bentuk pengendalian konflik sosial:
- Konsiliasi
Bentuk pengendalian
konflik yang dilakukan melalui lembaga-lembaga tertentu yang memungkinkan
diskusi dan pengambilan keputusan yang adil di antara pihak-pihak yang
bertikai.
- Mediasi
Pengendalian konflik
dengan cara mediasi dilakukan apabila kedua pihak yang berkonflik sepakat untuk
menunjuk pihak ketiga sebagai mediator. Pihak ketiga ini akan memberikan
pemikiran atau nasihat-nasihatnya tentang cara terbaik dalam menyelesaikan
pertentangan mereka.
- Arbitrasi
Arbitrasi atau perwasitan
umumnya dilakukan apabila kedua belah pihak yang berkonflik sepakat untuk
menerima atau terpaksa menerima hadirnya pihak ketiga yang akan memberikan
keputusan tertentu untuk menyelesaikan konflik.Maryati, Kun dan Juju Suryawati.
2014. Sosiologi:Kelompok Pemintan Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta. Esis Erlangga
daftar pustaka:
http://blog.unnes.ac.id/ivanalfiansyah/2015/12/07/materi-smama-kelas-xi-konflik-kekerasan-dan-upaya-penyelesaiannya/
.png)


0 komentar: