“SIAL MENUMBUHKAN MODAL SOSIAL”
Mengawali
tulisan ini saya akan sedikit bercerita tentang bagaimana saya mensikapi
tentang wabah corona ini. Pada awalnya saya membaca berita di media sosial
tentang wabah corona yang pertama kali muncul di Wuhan Cina, ada sedikit
ketakutan tapi dengan cepat saya menepis dengan menempatkan dalam pikiran saya
kalau berita itu hanya fiktif dan saya berharap itu hanya berita hoaks. Jujur,
sebenarnya saya atau mungkin ada sebagian masyarakat sudah kesulitan untuk
membedakan antara berita yang nyata atau rekayasa. Penyebaran berita bohong di
media massa bisa menimbulkan masalah baru dalam masyarakat, karena bisa menimbulkan
keresahan, menimbulkan konflik bahkan bisa mempengaruhi rendahnya kewaspadaan terhadap suatu masalah. Terbukti dari
pengalaman saya, sepertinya saya baru tersadar bahwa fenomena pandemic corona
itu nyata ketika sekolah di liburkan dan saya harus pula menjalani WFH (work from home), saya juga kesulitan
mencari masker ataupun handsanitizer.
Globalisasi telah mendorong peningkatan arus
mobilitas penduduk dunia, jadi dalam waktu singkat corona berubah menjadi pandemi
global. Semua negara dibuat kuwalahan, pembatasan aktivitas atau physical distancing, stay at home dan lockdown dengan cepat diberlakukan.
Pemberlakuan aturan tersebut bukan berarti membuat masalah jadi selesai,
ternyata menimbulkan dampak pada sendi kehidupan yang lain, misalnya faktor
ekonomi. Drama-drama kehidupan bermunculan satu persatu, di mulai dari
masyarakat kelas menengah dan bawah yang kesulitan mendapatkan bahan pangan
karena sudah di borong oleh masyarakat kelas atas, banyak karyawan yang di PHK,
kriminalitas semakin meningkat, dan sebagainya.
Kondisi masyarakat yang tidak sama
juga memberikan potret yang berbeda dalam mensikapi pandemic corona, hal ini
bisa disebabkan oleh beberapa hal misalnya faktor ekonomi, pendidikan ataupun
tingkat kesadaran akan kesehatan karena minimnya informasi yang mereka terima.
Seperti kondisi yang ada di desa saya, dampak dari pandemic corona tidak begitu
mempengaruhi aktivitas masyarakat, sebagian besar masyarakat masih tetap
beraktivitas seperti biasanya. Hanya saja ada beberapa perubahan yang sifatnya
lebih positif tentang kekompakan dan kerja sama dalam menghalau masuknya virus
corona dari daerah lain, masyarakat bergotong royong membuat papan pembatas yang di pasang disetiap
pintu masuk desa dengan tulisan yang bertemakan pencegahan corona. Secara tidak
langsung dengan adanya masalah bersama solidaritas masyarakat muncul, baik itu
karena kesadaran ataupun karena aturan yang bersifat normatif.
Ketakutan masyarakat akan bahaya
corona sepertinya tidak selalu berbanding lurus dengan urusan perut, jadi masih
banyak terlihat sebagian masyarakat yang tetap bekerja di luar rumah untuk
menyambung hidup, prinsip mereka ada corona atau tidak ya tetap mati. Sekali
lagi kondisi ini juga mengundang empati masyarakat “mampu” untuk memberikan
bantuan berupa bahan pokok maupun alat perlindungan diri sederhana seperti
masker untuk di bagikan pada mereka yang membutuhkan.
Sudah hampir dua bulan lebih kita
menjalani masa stay at home, rasa
jenuh dan bosan sudah menghampiri kita semua, berbagai macam kegiatan sudah
kita lakukan untuk mengusir kebosanan itu. Ada yang mencoba membuka bisnis
kuliner rumahan, ada yang memanfaatkan masa ini menjadi moment untuk memperbaiki
kualitas diri, seperti mengikuti workshop secara online ataupun mengikuti
kajian online. Saya dan keluarga juga tidak mau kalah, saya berusaha selama
masa libur pandemi corona ini bisa menjadikan setiap waktu saya lebih
berkualitas dengan keluarga, banyak manfaat yang saya dapatkan, saya lebih
punya banyak waktu mendampingi anak saya belajar banyak hal yang positif.
Pada
suatu pagi secara tidak sengaja saya mendengar percakapan tetangga saya yang
berangkat ke sawah, berdasarkan pegalaman hidup mereka, dari kecil sampai tua
baru kali ini menemui kondisi zaman seperti ini, dimana harus hidup dalam
ketakutan, paceklik dan tidak boleh kemana-mana. Apa ini tanda-tanda mau kiamat
ataukah ini hukuman dari Allah karena kita semua sudah kebanyakan dosa.
Percakapan
mereka yang sederhana merupakan paradigma berfikir masyarakat secara umum
tentang suatu bencana. Sebagai masyarakat yang beragama, tidak bisa kita
pungkiri setiap ada bencana yang melanda, baik itu bencana alam ataupun wabah
penyakit, selalu muncul keyakinan kita kalau semua itu merupakan kehendak Allah
SWT, agar kita selalu mengakui kebesaran-Nya dan selalu sabar dalam
menjalaninya. Dari beberapa contoh sebelumnya bisa saya
ambil kesimpulan bahwa kita harus tetap berfikir positif dalam menghadapi
setiap masalah atau musibah, karena pada kenyataaannya ada banyak pelajaran
yang bisa kita d apatkan. Pelajaran yang bisa kita ambil dari tulisan saya ini
adalah dengan adanya musibah bisa menimbulkan modal sosial yaitu diantaranya
partisipasi dan tindakan proaktif yang ditunjukkan dengan adanya kerjasama dan
gotong royong sesama warga, selanjutnya munculnya resiprocity dimana adanya suatu empati terhadap kondisi sesama dan
terbentuknya aturan baru dalam melakukan hubungan sosial. Semoga dengan tetap
menjadi pribadi yang baik dalam menghadapi setiap masalah bisa mengantarkan
kita pada keberkahan hidup.
.png)

0 komentar: