“SIAL MENUMBUHKAN MODAL SOSIAL”

Oktober 01, 2020 , , 0 Comments

 


            Mengawali tulisan ini saya akan sedikit bercerita tentang bagaimana saya mensikapi tentang wabah corona ini. Pada awalnya saya membaca berita di media sosial tentang wabah corona yang pertama kali muncul di Wuhan Cina, ada sedikit ketakutan tapi dengan cepat saya menepis dengan menempatkan dalam pikiran saya kalau berita itu hanya fiktif dan saya berharap itu hanya berita hoaks. Jujur, sebenarnya saya atau mungkin ada sebagian masyarakat sudah kesulitan untuk membedakan antara berita yang nyata atau rekayasa. Penyebaran berita bohong di media massa bisa menimbulkan masalah baru dalam masyarakat, karena bisa menimbulkan keresahan, menimbulkan konflik bahkan bisa mempengaruhi rendahnya kewaspadaan  terhadap suatu masalah. Terbukti dari pengalaman saya, sepertinya saya baru tersadar bahwa fenomena pandemic corona itu nyata ketika sekolah di liburkan dan saya harus pula menjalani WFH (work from home), saya juga kesulitan mencari masker ataupun handsanitizer.

             Globalisasi telah mendorong peningkatan arus mobilitas penduduk dunia, jadi dalam waktu singkat corona berubah menjadi pandemi global. Semua negara dibuat kuwalahan, pembatasan aktivitas atau physical distancing, stay at home dan lockdown dengan cepat diberlakukan. Pemberlakuan aturan tersebut bukan berarti membuat masalah jadi selesai, ternyata menimbulkan dampak pada sendi kehidupan yang lain, misalnya faktor ekonomi. Drama-drama kehidupan bermunculan satu persatu, di mulai dari masyarakat kelas menengah dan bawah yang kesulitan mendapatkan bahan pangan karena sudah di borong oleh masyarakat kelas atas, banyak karyawan yang di PHK, kriminalitas semakin meningkat, dan sebagainya.

            Kondisi masyarakat yang tidak sama juga memberikan potret yang berbeda dalam mensikapi pandemic corona, hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal misalnya faktor ekonomi, pendidikan ataupun tingkat kesadaran akan kesehatan karena minimnya informasi yang mereka terima. Seperti kondisi yang ada di desa saya, dampak dari pandemic corona tidak begitu mempengaruhi aktivitas masyarakat, sebagian besar masyarakat masih tetap beraktivitas seperti biasanya. Hanya saja ada beberapa perubahan yang sifatnya lebih positif tentang kekompakan dan kerja sama dalam menghalau masuknya virus corona dari daerah lain, masyarakat bergotong royong  membuat papan pembatas yang di pasang disetiap pintu masuk desa dengan tulisan yang bertemakan pencegahan corona. Secara tidak langsung dengan adanya masalah bersama solidaritas masyarakat muncul, baik itu karena kesadaran ataupun karena aturan yang bersifat normatif.

            Ketakutan masyarakat akan bahaya corona sepertinya tidak selalu berbanding lurus dengan urusan perut, jadi masih banyak terlihat sebagian masyarakat yang tetap bekerja di luar rumah untuk menyambung hidup, prinsip mereka ada corona atau tidak ya tetap mati. Sekali lagi kondisi ini juga mengundang empati masyarakat “mampu” untuk memberikan bantuan berupa bahan pokok maupun alat perlindungan diri sederhana seperti masker untuk di bagikan pada mereka yang membutuhkan.

            Sudah hampir dua bulan lebih kita menjalani masa stay at home, rasa jenuh dan bosan sudah menghampiri kita semua, berbagai macam kegiatan sudah kita lakukan untuk mengusir kebosanan itu. Ada yang mencoba membuka bisnis kuliner rumahan, ada yang memanfaatkan masa ini menjadi moment untuk memperbaiki kualitas diri, seperti mengikuti workshop secara online ataupun mengikuti kajian online. Saya dan keluarga juga tidak mau kalah, saya berusaha selama masa libur pandemi corona ini bisa menjadikan setiap waktu saya lebih berkualitas dengan keluarga, banyak manfaat yang saya dapatkan, saya lebih punya banyak waktu mendampingi anak saya belajar banyak hal yang positif.

Pada suatu pagi secara tidak sengaja saya mendengar percakapan tetangga saya yang berangkat ke sawah, berdasarkan pegalaman hidup mereka, dari kecil sampai tua baru kali ini menemui kondisi zaman seperti ini, dimana harus hidup dalam ketakutan, paceklik dan tidak boleh kemana-mana. Apa ini tanda-tanda mau kiamat ataukah ini hukuman dari Allah karena kita semua sudah kebanyakan dosa.

Percakapan mereka yang sederhana merupakan paradigma berfikir masyarakat secara umum tentang suatu bencana. Sebagai masyarakat yang beragama, tidak bisa kita pungkiri setiap ada bencana yang melanda, baik itu bencana alam ataupun wabah penyakit, selalu muncul keyakinan kita kalau semua itu merupakan kehendak Allah SWT, agar kita selalu mengakui kebesaran-Nya dan selalu sabar dalam menjalaninya.   Dari beberapa contoh sebelumnya bisa saya ambil kesimpulan bahwa kita harus tetap berfikir positif dalam menghadapi setiap masalah atau musibah, karena pada kenyataaannya ada banyak pelajaran yang bisa kita d apatkan. Pelajaran yang bisa kita ambil dari tulisan saya ini adalah dengan adanya musibah bisa menimbulkan modal sosial yaitu diantaranya partisipasi dan tindakan proaktif yang ditunjukkan dengan adanya kerjasama dan gotong royong sesama warga, selanjutnya munculnya resiprocity dimana adanya suatu empati terhadap kondisi sesama dan terbentuknya aturan baru dalam melakukan hubungan sosial. Semoga dengan tetap menjadi pribadi yang baik dalam menghadapi setiap masalah bisa mengantarkan kita pada keberkahan hidup.



tugas diklat

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: